Langsung ke konten utama

NIKAH MUDA?

NIKAH MUDA? Nikah muda memang bukan perkara mudah tapi lebih baik segera daripada ditunda karena setan punya banyak cara untuk selalu ada. Nikah muda? Mereka bilang masih terlalu belia belum bisa berumah tangga, habisin dulu masa remaja baru mikirin nikah. Ah sudahlah, ucapan manusia bukanlah masalah, segeralah tuntaskan separuh agama untuk hidup di dunia hingga ke Jannah-Nya.

Pernikahan muda sudah terjadi di zaman kakek nenek kita pada puluhan tahun lalu, dan nyatanya pada masa kini yang sudah modern tak sedikit anak muda yang memutuskan menikah di usia awal 20-an, bahkan dibawah usia 20 tahun.

Seperti Muhamad Ramadhan salah satu Mahasiswa Universitas Islam Bandung (UNISBA) Fakultas Dakwah angkatan 2016, yang memilih jalan untuk nikah muda pada usia 19 tahun yang saat itu berusia sama dengan sang istri. Kiranya akan dilarang oleh kedua orang tua, nyatanya ia mendapat respon positif dengan mendukung keputusannya. Ramadhan menikah pada tanggal 21 september 2017, padahal saat itu ia masih kuliah semester tiga. Ia menafkahi sang pujaan hatinya dari hasil usaha penyewaan lighting dan sound system, selain itu dibantu juga oleh sang istri dari hasil Make Up Artist.

Alasan menikah mudapun tak hanya semata-mata untuk menghindari fitnah dan maksiat, ia memiliki tujuan lain yaitu untuk mencari ridho illahi dan membahagiakan sang istri yang dicintai untuk menuntunnya ke jannah. Menurutnya menikah muda itu mengasyikan, karena dapat menjaga diri dari kemaksiatan, ketimbang hanya mengenal dekat dengan hubunngan pacaran yang bisa menimbulkan fitnah, “untuk apa saya tahu tentang larangan berpacaran tapi tetap melakukannya”, ujar mahasiswa semester lima ini

Ramadhan dengan bidadari surganya pertama kali bertemu di Pondok Pesantren Modern Miftahul Huda, pada awalnya hanya saling mengenal biasa, namun lama kelamaan benih-benih cintapun muncul,akhirnya Ramadhan memberanikan diri untuk menghitbah sang istri. Ia mengaku bahwa pada awal pernikahan tidaklah mudah, konflik mulai bermunculan satu persatu salah satunya ego masing-masing yang masih tinggi, namun lambat laun ia dan istri saling mengerti dan mendukung satu sama lain. 

Pernikahan tidak menjadi hambatan dalam kuliah, rupanya istri menjadi penyemangat dalam mencari ilmu, selain itu bisa mengubahnya menjadi dewasa dan lebih bertanggung jawab. “Biasanya bisa main bebas, sekarang sudah berfikir duakali karena sudah memiliki tanggung jawab yang lebih dan sudah ada yang harus diutamakan, bahkan kegiatan main agak dikurangi, kebanyakan bareng sama istri”, ujar ramadhan sembari memegang Handphone

Menurut Dadang Suhada, tata usaha Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sukajadi Kota Bandung menjelaskan bahwa dari dulu pernikahan muda tidak jadi masalah, bahkan jika kita menengok kebelakang pada zaman dulu orang tua atau uyut kita ada yang menikah usia 16 tahun bahkan anak-anaknyapun akhirnya bisa berhasil menjadi orang sukses, tapi menyangkut masalah pernikahan dibawah usia itu ada setelah ditetapkannya Pasal 7 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan, batas usia menikah bagi perempuan adalah 16 tahun dan pria 19 tahun. “Sebetulnya menikah dibawah umur tidak melanggar syariat agama karena agama tidak mengatur, selama perempuan sudah menstruasi berarti sudah dewasa, aturan usia itu hanya ketentuan Negara karena kita hidup bernegara akhirnya kita ikut ke Negara bukan kita mengalahkan agama”. Kata Dadan sambil membenarkan kacamatanya

Sama halnya yang dilontarkan oleh Ustadz Takyuddin, yang mengatakan bahwa nikah muda, baik dimulai dari usia 15 atau 16 itu diperbolehkan, karena dalam rukun nikah itu berisi yang pertama harus ada pengantin laki-laki, pengantin perempuan, wali, dan ijab kabul. Tidak ada disana dituliskan harus usia berapa sebab yang paling utama nikah itu untuk ibadah memenuhi perintah Allah dan selain itu pula untuk menghindarkan zina. Yang paling penting dari sebuah pernikahan adalah komitmen dari masing-masing pasangan, jika sudah mengambil keputusan, artinya akan ada 'tanggung jawab' yang nantinya akan mengikuti.

“Nikah muda itu baik, karena Allah akan berikan yang terbaik bagi hambanya yang berbuat baik,” kata Muhamad Ramadhan dalam akhir perbincangan


Oleh : Mutiara Amalia

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Speech about Body shaming Name: Mutiara Amalia Assalamu’allaikum wr.wb Good evening, how are you guys?... I hope you’re still excited in this evening. Btw I want to ask you when you meet your old friend, what you want a ask?... Ya ofcourse, we’re always ask about conditions, ask about felling, right? but some people choose to make small talk about things that are actually sensitive, like a “ why you so fat now? How come you're so skinny?” but There sentence is already included in body shaming, and do you know guys? body shaming has included bullying type verbal. Now I want to tell you about body shaming because, body shaming is one of the biggest problems in today’s generation. For the first, Body shaming is the practice of making critical, comments about a person's body size, weight, skin, face, or about Physical abnormalities either by incidents or genetics. Body shaming has become a problem for both sexes. Body shaming can be anywhere like a in the school, soci...

Tak Seindah Pelangi

#Awal pertama dahulu kala (part1) Hai perkenalkan namaku Hanara panggil saja nara, dan seorang lelaki yang ku kagumi bernama Mahendra biasa kupanggil rendra, dulu kami pernah dekat dimulai saat lulus dari sekolah menengah pertama, Aku dan rendra pernah jalan berdua, untuk pertama kalinya kita makan siang bersama, pergi ke wahana bermain, sampai pergi mencicipi es durian, canggung rasanya. Aku ingat sekali saat itu ia baru saja akan diinterview oleh salah satu perusahaan, kami cukup dekat layaknya orang yang sedang PDKT, sampai-sampai aku pernah diajak main bersama kaka perempuan dan teman kakanya pergi ke suatu danau yang letaknya lumayan jauh dari rumahku, akupun pernah menemaninya olahraga bersama teman-teman smannya yang kenal juga denganku karena kami satu sekolah. Apa yang kualami, apa yang sedang aku rasakan semua ku ceritakan padanya salah satunya cerita tentang rencana ku melanjutkan sekolah keluar kota, yang akhirnya tercapai walau sedikit tak sesuai dengan keinginan yang...
Apa yang saya rasakan saat ini? Banyak sekali yang sedang saya rasakan dan fikitkan saat ini. Yang sedang saya fikirkan saat ini..... Saya harus bagaimana? Saya harus kemana? Saya harus pilih yang mana? Dan saya harus mempertahankan semuanya atau harus mengorbankan satu hal? Apa saya terlalu bodoh atau terlalu lemah atau mungkin dua duanya? Selalu mengeluh? Manja? Atau terlalu santai dan berleha leha? Bertahan demi mencapai target yang diinginkan namun mengganggu dalam suatu hal? Atau mengorbankan target yang diinginkan demi melancarkan suatu hal? Selalu berfikir untuk mempertahankan, namun jadi berat dalam menjalaninya  dan sekilas seperti terpaksa. Tapi bila di lepaskan begitu saja banyak yang menyayangkan. Banyak sisi positif yang diambil bila di pertahankan tapi banyak juga sisi negatifnya begitupun sebaliknya bila di lepaskan. Aaaaaaaaaaa membingungkan sekali hal ini.